Selasa, 20 Maret 2012

Dari Fitrah Menuju Muslim yang Lurus dan Tercerahkan


Dari Fitrah Menuju Muslim yang Lurus  dan Tercerahkan

Hadirin, sidang Idul Fitri yang dirahmati Allah.
Atas Rahmat Allah yang agung yang telah dilimpahkan kepada kita, pada
hari ini, 1 Syawal 1428 H yang bertepatan dengan hari Jum’at tanggal 12
Oktober 2007 M, kami sampai pada puncak dari seluruh rangkaian ibadah
Ramadhan 1428 H, yaitu Hari Raya Idul Fitri, Hari Raya kemenangan Umat
Islam di seluruh pelosok dunia. Atas Hidayah Allah yang tercurah deras
dalam hati sanubari kita, perayaan Idul Fitri ini dapat kita lakukan dengan
khusu’ dan dengan hati yang bertaubat. Dan Atas Karunia Allah yang
melimpah ruah, kita bisa menikmati indahnya beridul fitri bersama sanak
keluarga, saudara, handau taulan, tetangga, teman dan seluruh kaum
muslimin dengan penuh kebersamaan dan suka cita. Untuk itu semua, puja
dan puji syukur wajib senantiasa kita haturkan ke hadirat Allah SWT, Rabb
sekalian alam.
Idul Fitri artinya hari raya fitrah. Hari raya kesucian manusia. Disebut juga
sebagai hari kembalinya kesucian kepada kita. Inilah hari raya yang resmi
diajarkan agama kita melalui sunnah Rasulullah SAW, selain Idul Adha.
Adapun semua hari raya atau hari besar Islam yang lain, lebih merupakan
hasil budaya daripada ajaran agama, seperti Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj,
Nuzulul Qur’an, Muharram dan lain-lain. Atas sunnah Rasulullah inilah kita
bisa meneladani bagaimana mensyukuri dan memaknai Idul fitri. Untuk itu,
salawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi dan Rasul kita
Muhammad SAW, keluarganya, sahabat-sahabatnya, dan seluruh kaum
muslimin yang selalu setia dengan sunnah-sunnahnya. Sebagaimana Allah
dan Malaikat bershalawat pula kepada Nabi Muhammad, seperti dalam al-
Qur’an surat Al ahzab, ayat 56:

Sidang jama’ah Idul Fitri yang berbahagia
Dalam al-Qur’an, kata fitrah berasal dari kata fathara, yang arti sebenarnya
adalah “membuka” dan “membelah”. Kalau dihubungkan dengan puasa
Ramadhan yang sebulan penuh lamanya itu, maka kata ini mengandung
makna “berbuka puasa”. Fitrah juga mengandung pengertian “yang mulamula
diciptakan Allah”, yang tidak lain adalah “keadaan mula-mula”, “yang
asal”, atau “yang asli”. Jika melihat firman Allah dalam surat al-An’am ayat
79, sebuah surat yang sangat dikenal karena sering dilafadzkan dalam
pembukaan shalat, sebelum membaca al-Fatihah, yang bunyinya adalah
sebagai berikut:
“Sesungguhnya Aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang
menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang
benar, dan Aku bukanlah termasuk orang-orang yang
mempersekutukan Tuhan.”
Kata fitrah dalam konteks ayat ini (fathara) dikaitkan dengan pengertian
hanif, yang jika diterjemahkan secara bebas menjadi “cenderung kepada
agama yang benar”. Istilah ini dipakai al-Qur’an untuk melukiskan sikap
kepercayaan Nabi Ibrahim a.s. yang menolak menyembah berhala, binatang,
bulan ataupun matahari, karena semua itu tidak patut untuk disembah. Yang
patut disembah hanyalah Dzat pencipta langit dan bumi.
Dari pengertian tersebut, timbul suatu teori, bahwa agama umat manusia
yang paling asli adalah menyembah kepada Allah. Hal ini berkaitan dengan
kepercayaan kaum muslimin, berdasarkan keterangan al-Qur’an, bahwa
manusia, segera setelah diciptakan, membuat perjanjian dengan Allah,
sebagaimana digambarkan dalam al-Qur’an, surat al-A’raf ayat 172:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam
dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka
(seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab:
“Betul (Engkau Tuban kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang
demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya
kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan
Tuhan)”.”
Tidak selamanya manusia tetap dalam ikatan perjanjian dengan Allah
sebagaimana tergambar dalam surat al-A’raf itu. Dalam banyak kasus,
manusia merusak perjanjian itu atau bahkan memutuskannya. Kondisi
seperti inilah di saat manusia sudah sedemikian jauh dari ajaran-ajaran
agama, karena lebih memberati dorongan hawa nafsu dan godaan setan.
Manusia lupa akan jati dirinya, lupa dengan fitrahnya. Secara nyata dapat
kita lihat tipe manusia seperti ini di segala lini kehidupan. Pemimpin yang
sewenang-wenang dan menindas, pejabat yang korup, pengusaha yang
serakah, pegawai yang tidak disiplin, pedagang yang curang, tetangga yang
selalu menggunjing dan seterusnya, adalah gambaran nyata dalam kehidupan
kita, bagaimana manusia lupa dengan fitrahnya. Sudah menjadi sunnatullah,
di saat manusia memutus hubungan dengan Allah, maka ia akan pula
memutus hubungan dengan sesama manusia dan akan berbuat yang merusak
tatanan alam semesta, dan pada akhirnya ia termasuk golongan manusia
yang merugi. Seperti tampak dalam firman-Nya surat al-Baqarah ayat 27:
“yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah
perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah
(kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan
di muka bumi. mereka Itulah orang-orang yang rugi.”
Ma’asyiral muslimin yahdikumullah
Ibadah Ramadhan yang kita jalankan sebulan penuh, adalah sarana
untuk menemukan kembali jalan menuju fitrah. Pada siangnya kita berpuasa,
di mana pahalanya tidak tergantung seberapa jauh kita lapar dan dahaga,
melainkan tergantung pada apakah kita menjalankan dengan iman dan
ihtisab kepada Allah serta penuh intropeksi atau tidak. Pada malamnya kita
dirikan shalat malam (shalatullail/tarawih), agar hati kita senantiasa terikat
dan tunduk kepada Allah pemilik jiwa raga ini. Hari-hari Ramadhan pula
kita ramaikan dengan tadarrus al-Qur’an agar kita bisa mengaca diri, apakah
tingkah-laku kita sudah sesuai dengan tuntunan al-Qur’an atau belum. Dan
pada akhir Ramadhan, kita tutup dan sempurnakan seluruh rangkaian ibadah
Ramadhan dengan zakat fitrah, sebagai ungkapan simbolik kecintaan kita
kepada kaum miskin dan papa.
Seperti yang sudah disampaikan di muka, bahwa pengertian fitrah
terkait dengan pengertian hanif. Manusia yang sudah kembali menemukan
fitrahnya (idul fitri), ia akan terkondisikan untuk menjadi hanif. Kata hanif
berasal dari kata kerja hanafa, yahnifu dan masdarnya hanifan, artinya
adalah “condong”, atau “cenderung” dan kata bendanya “kecenderungan”.
Dalam al-Qur’an, kata hanif yang dimaksud adalah “cenderung kepada yang
benar”, seperti dijelaskan oleh mufassir modern, Maulana Muhammad Ali
dalam The Holy Qur’an, yang merujuk kepada kamus al-Qur’an al-
Mufradat fi al-gharib karya al-Raghib al-Isfahani. Secara lengkap pengertian
hanif disampaikan oleh Nashir Ahmad sebagai berikut:
a. Orang yang meninggalkan atau menjahui kesalahan dan mengarahkan
dirinya kepada petunjuk.
b. Orang yang secara terus menerus mengikuti kepercayaan yang benar
tanpa keinginan untuk berpaling dari padanya
c. Orang yang cenderung menata perilakunya secara sempurna menurut
Islam dan terus menerus mempertahankannya secara teguh
d. Seseorang yang mengikuti agama Ibrahim, dan
e. Yang percaya kepada seluruh nabi-nabi.
Baik Muhammad Ali maupun Nashir Ahmad, keterangan tentang
hanif tersebut, merujuk kepada al-Qur’an, surat al-Baqarah ayat 135:
Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama
Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah :
“Tidak, melainkan (Kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan
bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.
Dari ayat itu pula diketahui bahwa lawan dari hanif adalah syirik
(politheis), yakni sebuah paham yang mempersekutukan Allah dengan
lainnya. Islam tidak mengajarkan politheisme (syirik) tetapi sebaliknya yang
ditekankan dalam ajaran Islam adalah monotheisme (tauhid) yaitu menolak
segala pengakuan dan keyakinan mausia atas tuhan-tuhan palsu. Jika pada
zaman Jâhiliyyah, tuhan-tuhan palsu itu dimanifestasikan dalam wujud
berhala-berhala, maka pada zaman modern ini, tuhan-tuhan palsu terwujud
dalam banyak aspek dan bidang yang lebih luas dan komplek dari sekadar
berhala-berhala sesembahan. Tuhan-tuhan itu lebih berbentuk kedhaliman
dan penindasan, atau kesenangan dunia yang ketika meraihnya harus
merampas hak-hak orang lain.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah
Setelah orang selalu tertambat hatinya kepada kebenaran (hanif) dan
menolak dengan keras syirik, ia akan meneladani Rasulullah dalam
perjuangannya membebaskan umat Islam dari penindasan, kebodohan dan
kemiskinan. Pada zamannya, Mekkah adalah suatu kota dagang dengan
sedikit pedagang kaya tetapi banyak orang miskin yang penghidupannya
tergantung pada orang kaya kota itu. Orang-orang masih bodoh dan
bertakhayul, menyembah banyak sekali ilah. Para perempuan ditindas,
bahkan mereka dapat dikubur hidup-hidup. Ada banyak budak, para janda
dan anak yatim yang diabaikan tanpa ada yang peduli terhadap nasib
mereka. Dengan bimbingan Nabi, orang-orang Arab, di samping
membebaskan diri mereka sendiri, juga berusaha membebaskan orang-orang
dari kerajaan Romawi dan Persia yang menindas.
Rasulullah saw., yang secara harfiyah berarti manusia yang terpuji, adalah
nabi terakhir dan merupakan pejuang sejati. Dia membebaskan budakbudak,
anak-anak yatim dan perempuan, kaum yang miskin dan lemah.
Perkatannya yang mengandung wahyu menjadi ukuran untuk membedakan
yang benar dari yang salah, yang sejati dari yang palsu, dan kebaikan dari
kejahatan. Misinya sama dengan nabi-nabi terdahulu; menegakkan
kebenaran, kesetaraan dan persaudaraan manusia.
Muslim yang peduli dengan nasib kaum miskin, bodoh dan terbelakang
dengan menyantuninya sepenuh hati, adalah penjelmaan manusia fitri yang
hanif. Merekalah yang disebut rausanfikr, yaitu muslim tercerahkan yang
peduli dengan nasib umat. Kepedulian ini menjadi sangat penting,
mengingat kondisi masyarakat kita yang masih terdapat jurang pemisah yang
cukup lebar antara si kaya dan si miskin. Seperti sindiran Allah dalam al-
Qur’an surat an-Nisa’ ayat 75:
Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela)
orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anakanak
yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari
negeri Ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami
pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi
Engkau!”.
Rausanfikr (muslim tercerahkan) harus tercipta dalam diri kita masingmasing.
Kita tidak boleh masa bodoh atau tidak peduli (cuek) dengan
persoalan di sekitar kita. Kepedulian pada persoalan ummat akan mendorong
kita menuju sebuah keshalehan sosial yang sangat ditekankan oleh Islam.
Islam tidak saja mengajarkan keshalehan individu (taat pada perintah ibadah
mahdhah), tetapi juga keshalehan sosial atau bahasa agamanya adalah ihsan
(orangnya: muhsin/muhsinun), yaitu kegemaran pada amal shaleh. Allah
berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 125:
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas
menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan
kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah
mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.
Ada cerita menarik dalam sejarah dakwahnya Kyai Dahlan, pendiri
Muhammadiyah. Waktu itu beliau mengajarkan sebuah surat pendek dalam
al-Qur’an yaitu surat al-Ma’un (surat ke-107) kepada murid-muridnya. Para
murid sempat protes terhadap cara mengajaran beliau terus mengulang-ulang
surat tersebut, walaupun para murid sudah lama menghapal di luar kepala.
Sehingga pada suatu saat ada murid yang berani bertanya kepada Kyai
Dahlan mengenai hal itu. Lalu, konon, kyai Dahlan balik bertanya, “Apakah
engkau sudah mengamalkan surat itu ?”.
Sungguh sebuah model pengajaran Islam yang lebih mengedepankan
amaliah shalihah daripada sekadar hafalan. Model hafalan seperti inilah
yang banyak terlihat dalam pengajaran-pengajaran Islam dewasa ini,
sehingga sulit untuk melahirkan santri atau murid yang tercerahkan dan
mempunyai kepedulian (rausanfikr).
Hadirin yang berbahagi…
Ini barangkali renungan kita di sela-sela kita merayakan idul fitri
sehingga hari raya kita tetap menjadi lebih bermakna. Maka marilah kita
berdo’a kepada Allah SWT, semoga Allah memasukkan kita ke dalam
hamba-hambaNya yang pandai bersyukur, mentaati perintahnya dan
menjauhkan kita dari adzab dan siksanya yang sangat pedih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar